Thukul Dan Bangkitnya Film-Film Non-Main Stream Bagian 2

Fenomena itu menggembirakan sekaligus mengindikasikan industri film nasional kian bergairah. Selain film dengan jumlah penonton yang membeludak, film-film yang kental menggunakan dialog bahasa daerah, terutama Jawa, muncul pada 2016. Di antaranya film Sunya, Nyai, dan Ziarah (bahasa Jawa).

Lalu Salawaku (Maluku) dan Athirah (Bugis). Jumlahnya memang tidak mencapai puluhan, tapi kehadiran film dengan bahasa daerah itu tentu ikut memperkaya khazanah film nasional. Tak hanya itu. Pada 2016 juga bermunculan film indie yang lahir dari komunitas yang diproduksi dengan anggaran kecil. Sebut saja film Ziarah karya sutradara B.W. Purba Negara dan Istirahatlah Katakataarahan Yosep Anggi Noen. Kedua film itu mendapat sambutan yang menggembirakan ketika diputar di festival, baik di dalam maupun di luar negeri. Keduanya menggebrak justru sebelum ditayangkan di bioskop komersial di Tanah Air.

Lalu ada film bisu Setan Jawa karya sutradara Garin Nugroho. Kehadiran film bisu hitam-putih itu mendobrak dunia perfilman kita. Ia menjadi tontonan seni yang sangat menarik, melampaui film itu sendiri. Film yang mengangkat mitologi Jawa tentang pesugihan itu terinspirasi film horor hitam-putih dan bisu lawas Jerman, Nosferatu, karya F.W. Murnau.

Dalam pemutaran perdana di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, 3 dan 4 September 2016, orkestra gamelan Rahayu Supanggah mengiringi secara langsung film ini. Setelah di Jakarta, Setan Jawa diputar di enam negara Asia, Eropa, dan Australia. Dimulai di Asia-Pacifc Triennial of Performing Arts di Melbourne, Australia, pada Februari 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *