Kembar Siam Dada dan Perut Sukses Dipisahkan

Di usia yang ke-10 bulan, si kembar siam, Maxxon dan Maxxen, berhasil dipisahkan oleh tim dokter RSIA Harapan Kita, Jakarta pada 20 Februari lalu. Saat kontrol di usia kandungan satu bulan, dokter memberitahukan jika saya hamil anak kembar. Wow, amazing! Saya baru tahu di pihak keluarga suami ada keturunan kembar. Ya, kami syukuri anugerah ini.

Baca juga : toefl ibt jakarta

Mungkin karena anak kembar, kontrol rutin kehamilan saya diminta lebih cepat. Jadi, pada usia kandungan satu bulan lebih, saya kembali kontrol. Nah, di sini kabar mengagetkan diutarakan dokter, bahwa anak saya kembar dempet alias kembar siam. Sedih sekali mendengarnya. Saya sempat mempertanyakan kepada Tuhan, “Mengapa saya yang harus mengalaminya? Kenapa anak saya harus kembar siam?”

Hingga akhirnya saya hanya bisa berdoa, memasrahkan semuanya kepada Tuhan untuk kebaikan saya dan anak-anak, juga mengikuti petunjuk-petunjuk dokter, serta belajar dengan cara banyak membaca mengenai kembar siam. Setelah berdiskusi dan ngobrol banyak dengan dokter, di usia kehamilan empat bulan, saya melakukan USG 4D untuk mengetahui kondisi janin: bagian mana yang menempel, apakah organnya ada dua atau satu, dan lainnya. Hasilnya, anakanak saya “hanya” menempel saja, organ-organnya masingmasing.

Sejak awal diindikasi mengandung kembar siam, beberapa kenalan menyarankan untuk digugurkan selagi kehamilan masih kecil. Tapi saya dan dokter kandungan sepaham, anak yang saya kandung ini berhak hidup, sebab mereka adalah kebesaran Tuhan yang dipercayakan kepada kami dan manusia tidak berhak memutuskan apakah anak ini harus hidup atau mati. Jadi, saat didiaGnosis kembar siamnya hanya menempel dan organnya masing-masing, tentu kami semakin semangat untuk memperjuangkan kehidupannya semaksimal mungkin hingga dia lahir dan besar.

PASIEN BPJS Beberapa keluarga dan teman menyarankan saya untuk pe riksa dan melahirkan di Singapura atau Malaysia Tapi saya dan suami lebih memilih RS Harapan Kita karena yakin dengan rumah sakit ini. RSAB Harapan kita adalah RS rujukan nasional, pengalaman menangani kasus-kasus berat, juga kembar siam, dan angka kelahiran kembar siam di Indonesia itu lebih banyak dibandingkan dengan negara tetangga.

Sumber : https://pascal-edu.com/

Pembangunan Perpustakaan Untuk Komunitas

Beberapa waktu lalu, Yayasan Bulir Padi (Bulir Padi) meresmikan Pustaka Bulir Padi, sebuah taman baca dan perpustakaan yang berlokasi di Lapangan Serbaguna, di Otista, Jatinegara, Jakarta Timur. Pembangunan Pustaka Bulir Padi ini adalah bentuk nyata usaha Bulir Padi untuk meningkatkan minat baca di komunitas prasejahtera di Jakarta, khususnya bagi anak-anak usia sekolah. Pustaka Bulir Padi ini adalah pustaka bulir padi yang nomor dua dan didirikan oleh Bulir Padi.

Baca juga : Beasiswa s2 Jerman

Berdasarkan dari jumlah data di Bank Dunia, Indonesia mempunyai minat baca yang paling rendah di antara semua negara Asia Tenggara. Indeksnya hanya 21,7% dibanding negara tetangga, seperti Filipina dan Singapura yang tercatat memiliki minat baca lebih dari 70%. Hasil studi dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) di tahun 2013 menyatakan, dari 1.000 orang yang ada di Indonesia, hanya ada satu orang saja yang suka membaca. Di tahun yang sama, survei Badan Pusat Statistik (BPS) di Indonesia menunjukkan, orang Indonesia paling gemar nonton televisi, yakni sebanyak 91,68 %, sementara yang suka membaca surat kabar hanya 17,6 % saja. Padahal, minat baca harus ditumbuhkan ketika masih dini agar mengasah kemampuan dalam berpikir seseorang sampai dewasa.

Tia Sutresna, Ketua Yayasan Bulir Padi mengatakan, “Bulir Padi mendukung penuh upaya Pemerintah dalam mening katkan minat baca masyarakat Indonesia di tengah tingginya kemajuan teknologi yang semakin mendominasi kegiatan sehari-hari. Pustaka Bulir Padi adalah wujud nyata visi kami agar meningkatkan minat baca. Kami optimis bahwa langkah yang kami lakukan dapat membentuk masyarakat yang lebih berilmu dan kompeten.” Pembangunan Pustaka Bulir Padi mendapat dukungan penuh dari Schneider Electric Indonesia. Sebagian besar dana yang ada di pembangunan Pustaka Bulir Padi berasal dari Schneider Electric Indonesia.

Komitmen Schneider Electric Indonesia juga bisa terlihat dari penggalangan sebanyak 1.000 buku dari para karyawan yang sekarang berada dalam Pustaka Bulir Padi. Buku tersebut bervariasi, mulai buku pelajaran, ensiklopedia, komik sains, dan cerita bergambar yang memiliki nilai edukasi. Country President Schneider Electric Indonesia Riyanto Mashan mengatakan, “Kami peduli terhadap lingkungan di mana pun perusahaan kami berada. Peresmian hari ini merupakan output dari kepedulian tersebut, yaitu berupa donasi kegiatan Schneider Electric ‘Use Your Legs’ yang kami banggakan dan komitmen karyawan dalam penggalangan buku.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

 

Mengapa Sulit Bangun Pagi

Rutin bangun pagi pada jam yang sama menjadi latihan bagi si prasekolah untuk membentuk kedisiplinan. Waktu menunjukkan pukul 06.30, Sarah gelisah karena Ray, anak bali- tanya, belum bangun tidur. Padahal Ray harus masuk sekolah dan paling tidak pukul 07.30 ia harus sudah berangkat. Sementara waktu tempuh rumah ke sekolah sekitar 15 menit. Sarah sudah berkali-kali mencoba memba ngunkan Ray.

Baca juga : Beasiswa S1 Jerman Full

Dari elus-elus pipi, mengelitik kakinya , cium-cium kecil, sampai menggendong Ray pindah ke luar kamar. Namun, hasilnya masih nihil. “Ray, bangun, yuk! Sudah siang lo, kan harus sekolah.” “Mmmm…” Tak lama Ray membuka matanya, tapi masih tampak malas untuk bergerak. “Ayo, Ray, mau makan atau mandi dulu?” “Aku nggak mau sekolah, Maaaaa, aku mau tidur aja!” dan Ray merem lagi. Sarah pun geleng-geleng bingung, bagaimana membujuk anaknya agar bisa bangun tepat waktu.

Belum lagi mengatasi drama pagi hari yang biasanya berujung dengan tangisan Ray karena Sarah setengah memaksa Ray untuk mandi atau makan. Bagaimana jika Ray sudah sekolah beneran di SD. Bukankah bangun pagi mutlak dilakukan agar tak terlambat ke sekolah? Apakah drama sulit bangun paginya akan terus berlanjut, ya?

Cukup Tidur Di Malam Hari

Psikolog Ratih Pramanik menuturkan, agar anak tak sulit bangun pagi, pastikan anak tidur cukup saat malam hari. “Waktu tidur ideal anak prasekolah adalah 1o jam, misalnya dari pukul 20.00 sampai dengan 06.00,” jelas Ratih. Kalau sudah dibiasakan tidur cukup, otomatis anak pun bisa bangun pagi. Tapi biasanya “drama” sering terjadi di sini. Anak bisa sulit bangun pagi, karena waktu tidurnya kurang dari 10 jam, sehingga badannya belum betul-betul siap untuk bangun.

Walaupun bangun, anak merasa tidak bugar, bahkan lesu. Akibatnya bisa ditebak, si prasekolah akan cenderung rewel saat diminta mandi atau sarapan. Jika sudah rewel, lalu anak mulai marah dan menangis, yang sangat mungkin berakhir dengan drama. Selain itu, tidur kurang nyenyak juga bisa menyebabkan anak sulit bangun pagi.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Belum Genap Setahun, Jalani Dua Operasi

Setelah si sulung berusia 4 tahun, saya dan suami baru mulai melakukan program hamil, sekaligus program supaya bisa memiliki anak laki-laki, karena penting sekali bagi kami sebagai pemeluk agama Hindu Bali. Ternyata, untuk mendapatkan kehamilan kedua tak semudah yang dibayangkan. Berbulan-bulan usaha dan konsultasi ke dokter, tetap tak membuahkan hasil, sampai akhirnya saya harus ganti dokter.

Baca juga : Kursus Bahasa Jepang di Jakarta Selatan

Tapi, di situ pula kami down, karena menurut dokter, saya susah untuk hamil kembali. Entah apa yang bisa membuat dokter membuat kesimpulan itu. Sejak saat itu, saya dan suami tak mau mengikuti aturan dokter lagi, vitamin yang sudah saya beli pun tidak saya konsumsi. Kami hanya mengikuti saran dokter dalam hal menjaga pola makan. Suami memperbanyak konsumsi daging merah, sementara saya sayur-sayuran dan buah-buahan. Pun di situ kami pasrahkan saja semuanya pada yang Mahakuasa.

Mungkin karena kami pasrah inilah, Tuhan menjawab doa kami dengan memberikan kehamilan yang kedua. Karena ini anak yang dinantikan, setiap bulan saya tak pernah melewatkan jadwal ke dokter, bahkan cenderung lebih awal saking tidak sabarnya. Selain itu, kehamilan kedua ini, semuanya sangat berbeda. Biasanya ibu hamil susah makan karena mual, saya justru kebalikannya, mual jika sampai merasa lapar. Uniknya, saya tetap bisa berkerja seperti biasa sebagai MC hingga ke luar kota, naik pesawat, bahkan saat perut sudah membuncit karena memasuki 32 minggu masih ada yang minta saya menjadi MC!

Intinya, selama menjalani kehamilan kedua ini, saya begitu semangat dan bertambah semangat saat dokter memberitahukan, anak saya ini laki-laki, sehat, lengkap dan energik. KONDISI SI KECIL DITUTUP-TUTUPI Tiba waktunya bersalin, seperti anak pertama, oleh dokter disarankan untuk sesar. Seperti anak pertama pula, saya request selama operasi agar dibius tidur alias tidak sadar sama sekali. Begitu sadar pascaoperasi, saya mendengar seorang perawat yang membangunkan mengucapkan selamat, karena putra saya sudah lahir. Kemudian, perawat itu mendekatkan bayi ke bibir saya agar bisa dicium. Saat itu saya tidak bisa membuka mata secara normal, karena belum sadar 100%, jadi semuanya terlihat samar. Setelah itu saya kembali tertidur.

Sumber : https://eduvita.org/

4 Problem Utama

Mungkin banyak Mama yang tak mengerti, mengapa si kecil menolak makanan yang mengandung serat. Padahal menu itu kalau disantap enak dan nikmat. Ini persoalan utama yang sering ditemui: ? Bentuk dan cara penyajiannya tidak menarik. Memang butuh kreativitas orangtua dalam mengkreasikan menu serat buat si buah hati. Tidak semata-mata enak disantap tapi juga musti sedap dipandang. ? Orangtua memaksa anak untuk makan menu mengandung serat sedangkan Mama Papa tidak memakan makanan berserat itu.

Baca juga : Beasiswa d3 ke S1 Luar Negeri

Orangtua yang menuntut anaknya makan sayur dan buah seharusnya memberikan contoh kepada anak. Jika anak melihat orangtuanya menyingkirkan sayur dan buah pada makanannya, anak akan berpesepsi bahwa sayur dan buah itu tidak enak. Alhasil, anak jadi tidak mau makan sayur (dan buah). Sebaliknya jika anak melihat orangtuanya lahap makan sayur dan buah, anak akan tergoda dan mau memakannya juga. Artinya, orangtua menjadi role model untuk anak.

Jika anak menolak, para orangtua diharapkan tidak putus asa dan coba kembali dengan bentuk dan menu yang lebih menarik lagi. ? Orangtua harus mengamati mengapa anak tidak mau makan sayur. Apakah anak hanya tak suka sayuran dan buah tertentu? jika itu masalahnya, gantilah dengan buah dan sayur yang lain. Sebagai contoh, anak tidak suka makan kangkung karena rasanya sedikit pahit.

Coba ganti dengan bayam yang rasanya lebih netral. Atau wortel yang dibentuk unik seperti bintang dan rasanya manis. Alternatif lain jika sayur tidak mau, berikan buah yang manis dan berwarna menarik. Dapat juga diberikan agar/agar atau puding. ? Jika anak tetap menolak memakan serat, di sini orangtua harus menjelaskan dengan bahasa sederhana yang dapat dimengerti anak tentang manfaat dari sayur dan buah yang disajikan.

1 Dari 8 Anak Berisiko Campak

Jeda antara waktu vaksinasi campak yang kurang ideal serta keputusan orangtua untuk menolak vaksinasi, membuat jumlah anak penderita campak meningkat, demikian menurut studi yang dilakukan Robert Bednarczyk, PhD, Asisten Profesor di Hubert Department of Global Health, Rollins School of Public Health, Emory University, Atlanta. Ini sungguh disayangkan, mengingat campak adalah salah satu penyakit berbahaya yang bisa dicegah dengan vaksinasi. Bila anak Mama tidak pernah divaksin atau pernah tapi tidak lengkap, risikonya terkena campak akan semakin tinggi, sementara campak termasuk mudah menular melalui kontak langsung maupun udara.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Yang Mana Kontrasepsi Pilihan Mama

“Saat masih hamil saya sudah mulai bertanya ke bidan tentang berbagai macam KB. Ditimbang-timbang akhirnya IUD jadi pilihan. Mesti kata orang, pasang IUD itu sakit, tapi berkat ibu bidan yang oke ba nget, saya sampai lupa sakit karena diajakin ngobrol dan suasana nyaman. Kirain belum dipasang, eh si ibu bidan bilang, ‘Sudah selesai, Mbak’ Whooo… gak nyesel IUD. Senangnya lagi, tetep nyaman saat berhubungan intim dengan suami.” Itu cerita Mama Anggi Rizka Pustika, pemakai salah satu alat kontrasepsi modern, IUD.

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

Kontrasepsi modern sendiri terbagi atas kontrasepsi tak permanen dan permanen. Kontrasepsi tak permanen disarankan bagi mama yang masih ingin memiliki momongan kembali. Beberapa pilihannya adalah IUD, pil, suntikan, dan norplant. Sedangkan cara kontrasepsi permanen dapat dilakukan dengan operasi tubektomi (sterilisasi pada perempuan) dan vasektomi (sterilisasi pada lelaki). Nah, IUD (Intra Uterine) atau AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim ), juga lebih dikenal dengan spiral, merupakan alat KB yang terbilang sangat efektif.

Tak sedikit mama yang merasa cocok dengan IUD. Bagi mama menyusui pun, IUD tak memengaruhi kualitas atau produksi ASI. Kontrasepsi ini berupa plastik berbentuk huruf T yang diletakkan di dalam rahim dan berguna untuk menghadang sperma agar tidak membuahi sel telur. Ada 2 jenis utama IUD: IUD yang terbuat dari tembaga (dapat bertahan hingga 10 tahun) dan IUD yang mengandung hormon (perlu diganti tiap 5 tahun sekali). Saat pemasangan yang paling baik ialah pada waktu mulut rahim masih terbuka dan dalam keadaan lunak.

Misalnya, 40 hari setelah bersalin dan pada akhir haid. Pemasangan AKDR dapat dilakukan oleh dokter atau bidan yang telah dilatih khusus. Pemeriksaan secara berkala harus dilakukan setelah pemasangan satu minggu, lalu setiap bulan selama tiga bulan berikutnya. Pemeriksaan selanjutnya dilakukan setiap enam bulan sekali. Kelebihan IUD adalah tidak memerlukan perawatan rumit, waktu pemakaian sekali untuk jangka panjang, risiko infeksi dalam 20 hari setelah pemakaian IUD sangat kecil.

Televisi Pengaruhi Persepsi Mama Terhadap Kehamilan

Ternyata, menonton acara yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan di televisi dapat memengaruhi ekspektasi mama terhadap kehamilan yang tengah dijalani. Begitu hasil penelitian dari University of Cincinnati. Danielle Bessett, Asisten Profesor di bidang Sosiologi dari McMicken College of Arts and Sciences di University of Cincinnati, menjelaskan adanya perbedaan persepsi berdasarkan tingkat pendidikan mamil.

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Mamil berpendidikan tinggi cenderung menganggap acara reality show tentang kehamilan hanyalah sebagai hiburan, sementara mamil yang tingkat pendidikannya lebih rendah menganggap apa yang ditayangkan di televisi itu sebagai sumber informasi yang edukatif bagi diri mereka. Padahal, rata-rata reality show di televisi berisi tayangan seputar kehamilan dan persalinan secara berlebihan jika dilihat dari intervensi medis yang digunakan. Jadi, tidak seperti yang umumnya terjadi di kehidupan nyata. “Adegan-adegan yang terlalu didramatisasi ini bisa membuat para mamil semakin cemas akan kehamilan dan persalinan yang akan dijalani,” kata Bessett.

Tinggi Badan Mama Pengaruhi Persalinan

Penelitian yang dilakukan di negara-negara Nordik menyimpulkan adanya kaitan antara tinggi badan mamil dengan pendeknya usia kehamilan, ukuran bayi yang lebih kecil, serta tingginya risiko kelahiran prematur. Namun, bukan berarti mama yang pendek pasti melahirkan prematur. “Masih ada faktor lain yang berpengaruh, seperti asupan nutrisi mamil serta faktor lingkungan,” kata Dr. Louis Muglia, peneliti dari March of Dimes Prematurity Research Center Ohio Collaborative, seperti dimuat di jurnal PLoS Medicine.

Sel Janin Dapat Pengaruhi Kesehatan Mama

Riset yang dimuat di jurnal Bioessays mengungkapkan, sel-sel yang terdapat dalam janin ternyata juga dapat bermigrasi menuju tubuh Mama melalui plasenta. Tidak hanya berpindah untuk sementara, sel-sel dari janin dapat masuk ke dalam jaringan tubuh Mama dan bertahan di sana hingga puluhan tahun setelah bayi dilahirkan, demikian menurut Amy Boddy, kepala peneliti yang berasal dari Fakultas Psikologi Arizona State University. Sel yang berasal dari janin ini dapat menguntungkan atau sebaliknya merugikan Mama, karena bisa melindungi atau justru meningkatkan risiko berbagai gangguan penyakit, baik kanker maupun penyakit autoimun lain, seperti reumatoid artritis.

Sumber : pascal-edu.com