Yang Mana Kontrasepsi Pilihan Mama

“Saat masih hamil saya sudah mulai bertanya ke bidan tentang berbagai macam KB. Ditimbang-timbang akhirnya IUD jadi pilihan. Mesti kata orang, pasang IUD itu sakit, tapi berkat ibu bidan yang oke ba nget, saya sampai lupa sakit karena diajakin ngobrol dan suasana nyaman. Kirain belum dipasang, eh si ibu bidan bilang, ‘Sudah selesai, Mbak’ Whooo… gak nyesel IUD. Senangnya lagi, tetep nyaman saat berhubungan intim dengan suami.” Itu cerita Mama Anggi Rizka Pustika, pemakai salah satu alat kontrasepsi modern, IUD.

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

Kontrasepsi modern sendiri terbagi atas kontrasepsi tak permanen dan permanen. Kontrasepsi tak permanen disarankan bagi mama yang masih ingin memiliki momongan kembali. Beberapa pilihannya adalah IUD, pil, suntikan, dan norplant. Sedangkan cara kontrasepsi permanen dapat dilakukan dengan operasi tubektomi (sterilisasi pada perempuan) dan vasektomi (sterilisasi pada lelaki). Nah, IUD (Intra Uterine) atau AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim ), juga lebih dikenal dengan spiral, merupakan alat KB yang terbilang sangat efektif.

Tak sedikit mama yang merasa cocok dengan IUD. Bagi mama menyusui pun, IUD tak memengaruhi kualitas atau produksi ASI. Kontrasepsi ini berupa plastik berbentuk huruf T yang diletakkan di dalam rahim dan berguna untuk menghadang sperma agar tidak membuahi sel telur. Ada 2 jenis utama IUD: IUD yang terbuat dari tembaga (dapat bertahan hingga 10 tahun) dan IUD yang mengandung hormon (perlu diganti tiap 5 tahun sekali). Saat pemasangan yang paling baik ialah pada waktu mulut rahim masih terbuka dan dalam keadaan lunak.

Misalnya, 40 hari setelah bersalin dan pada akhir haid. Pemasangan AKDR dapat dilakukan oleh dokter atau bidan yang telah dilatih khusus. Pemeriksaan secara berkala harus dilakukan setelah pemasangan satu minggu, lalu setiap bulan selama tiga bulan berikutnya. Pemeriksaan selanjutnya dilakukan setiap enam bulan sekali. Kelebihan IUD adalah tidak memerlukan perawatan rumit, waktu pemakaian sekali untuk jangka panjang, risiko infeksi dalam 20 hari setelah pemakaian IUD sangat kecil.

Televisi Pengaruhi Persepsi Mama Terhadap Kehamilan

Ternyata, menonton acara yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan di televisi dapat memengaruhi ekspektasi mama terhadap kehamilan yang tengah dijalani. Begitu hasil penelitian dari University of Cincinnati. Danielle Bessett, Asisten Profesor di bidang Sosiologi dari McMicken College of Arts and Sciences di University of Cincinnati, menjelaskan adanya perbedaan persepsi berdasarkan tingkat pendidikan mamil.

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Mamil berpendidikan tinggi cenderung menganggap acara reality show tentang kehamilan hanyalah sebagai hiburan, sementara mamil yang tingkat pendidikannya lebih rendah menganggap apa yang ditayangkan di televisi itu sebagai sumber informasi yang edukatif bagi diri mereka. Padahal, rata-rata reality show di televisi berisi tayangan seputar kehamilan dan persalinan secara berlebihan jika dilihat dari intervensi medis yang digunakan. Jadi, tidak seperti yang umumnya terjadi di kehidupan nyata. “Adegan-adegan yang terlalu didramatisasi ini bisa membuat para mamil semakin cemas akan kehamilan dan persalinan yang akan dijalani,” kata Bessett.

Tinggi Badan Mama Pengaruhi Persalinan

Penelitian yang dilakukan di negara-negara Nordik menyimpulkan adanya kaitan antara tinggi badan mamil dengan pendeknya usia kehamilan, ukuran bayi yang lebih kecil, serta tingginya risiko kelahiran prematur. Namun, bukan berarti mama yang pendek pasti melahirkan prematur. “Masih ada faktor lain yang berpengaruh, seperti asupan nutrisi mamil serta faktor lingkungan,” kata Dr. Louis Muglia, peneliti dari March of Dimes Prematurity Research Center Ohio Collaborative, seperti dimuat di jurnal PLoS Medicine.

Sel Janin Dapat Pengaruhi Kesehatan Mama

Riset yang dimuat di jurnal Bioessays mengungkapkan, sel-sel yang terdapat dalam janin ternyata juga dapat bermigrasi menuju tubuh Mama melalui plasenta. Tidak hanya berpindah untuk sementara, sel-sel dari janin dapat masuk ke dalam jaringan tubuh Mama dan bertahan di sana hingga puluhan tahun setelah bayi dilahirkan, demikian menurut Amy Boddy, kepala peneliti yang berasal dari Fakultas Psikologi Arizona State University. Sel yang berasal dari janin ini dapat menguntungkan atau sebaliknya merugikan Mama, karena bisa melindungi atau justru meningkatkan risiko berbagai gangguan penyakit, baik kanker maupun penyakit autoimun lain, seperti reumatoid artritis.

Sumber : pascal-edu.com