Thukul Dan Bangkitnya Film-Film Non-Main Stream Bagian 3

Setiap pemutaran film akan diiringi orkestra musik yang berbeda di tiap negara. Tempo, yang peduli pada perkembangan film Indonesia, memiliki tradisi tahunan memilih film terbaik. Ini menjadi alternatif bagi ajang pemilihan film yang ada selama ini di Tanah Air. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami memilih film, sutradara, penulis skenario, aktor dan aktris, serta aktor dan aktris pendukung terbaik.

Dari sekitar 120 film yang dirilis pada 2016, kami menyaringnya, menontonnya satu per satu, kemudian membuat daftar kandidat. Film yang kami pilih tak harus sudah diputar di bioskop komersial. Kami memilih semua film yang dirilis sepanjang 2016, asalkan film itu telah diputar di depan publik, seperti di festival. Contohnya film Istirahatlah Kata-kata, yang diputar di Busan International Film Festival pada Oktober lalu.

Kami kemudian menyeleksi, mendiskusikan, dan memperdebatkannya sebelum memilih pemenangnya. Tim juri terdiri atas awak redaksi Tempo yang biasa meliput, menulis, dan menyunting tulisan film, plus pengamat dari luar. Adapun kali ini kami mengundang sineas Joko Anwar dan Adrian Jonathan Pasaribu, pengamat film dan pengelola Cinema Poetica— media yang banyak mengulas film Indonesia.

Thukul Dan Bangkitnya Film-Film Non-Main Stream Bagian 2

Fenomena itu menggembirakan sekaligus mengindikasikan industri film nasional kian bergairah. Selain film dengan jumlah penonton yang membeludak, film-film yang kental menggunakan dialog bahasa daerah, terutama Jawa, muncul pada 2016. Di antaranya film Sunya, Nyai, dan Ziarah (bahasa Jawa).

Lalu Salawaku (Maluku) dan Athirah (Bugis). Jumlahnya memang tidak mencapai puluhan, tapi kehadiran film dengan bahasa daerah itu tentu ikut memperkaya khazanah film nasional. Tak hanya itu. Pada 2016 juga bermunculan film indie yang lahir dari komunitas yang diproduksi dengan anggaran kecil. Sebut saja film Ziarah karya sutradara B.W. Purba Negara dan Istirahatlah Katakataarahan Yosep Anggi Noen. Kedua film itu mendapat sambutan yang menggembirakan ketika diputar di festival, baik di dalam maupun di luar negeri. Keduanya menggebrak justru sebelum ditayangkan di bioskop komersial di Tanah Air.

Lalu ada film bisu Setan Jawa karya sutradara Garin Nugroho. Kehadiran film bisu hitam-putih itu mendobrak dunia perfilman kita. Ia menjadi tontonan seni yang sangat menarik, melampaui film itu sendiri. Film yang mengangkat mitologi Jawa tentang pesugihan itu terinspirasi film horor hitam-putih dan bisu lawas Jerman, Nosferatu, karya F.W. Murnau.

Dalam pemutaran perdana di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, 3 dan 4 September 2016, orkestra gamelan Rahayu Supanggah mengiringi secara langsung film ini. Setelah di Jakarta, Setan Jawa diputar di enam negara Asia, Eropa, dan Australia. Dimulai di Asia-Pacifc Triennial of Performing Arts di Melbourne, Australia, pada Februari 2017.

Thukul Dan Bangkitnya Film-Film Non-Main Stream

Selain musim subur bagi sejumlah film nasional yang menggaet penonton di atas satu juta , 2016 diwarnai film-film indie yang lahir dari komunitas . Tempo menyajikan film-film pilihan yang dirilis sepanjang 2016. Tradisi tahunan pemilihan film ini sebagai alternatif bagi festival film yang ada selama ini. Satu hal yang hendak kami capai dari langk ah ini: merayakan kegairahan film nasional yang bermutu.

ADA sejumlah hal menarik yang mewarnai dunia perfilman nasional pada 2016. Untuk pertama kalinya dalam sejarah perfilman Indonesia, ada tujuh film yang berhasil menggaet lebih dari satu juta penonton dalam semester pertama. Film itu adalah Ada Apa dengan Cinta? 2 (3,6 juta penonton), My Stupid Boss (3,1 juta), Rudy Habibie (2 juta), dan Koala Kumal (1,8 juta). Lalu Comic 8: Casino Kings Part 2, I Love You from 38.000 Feet, dan London Love Story, yang masing-masing menyedot penonton 1,8 juta, 1,5 juta, dan 1,2 juta orang. Pada 2016, jagat perfilman Indonesia juga dibikin terperangah oleh jumlah penonton Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1.

Film komedi produksi Falcon Pictures yang dirilis pada September lalu itu berhasil mengumpulkan penonton dengan jumlah cukup fantastis: sekitar 6,8 juta! Boleh dibilang 2016 merupakan masa subur bagi film nasional. Menurut data, pada 2015 jumlah penonton film nasional di jaringan Cinema 21 saja sekitar 14,25 juta. Sedangkan pada 2016 jumlahnya melonjak hingga sekitar 20 juta penonton.