Tips Membersihkan Kolong Kendaraan

Tips Membersihkan Kolong Kendaraan – Masih soal alias tips ringan yang cocok dipraktikkan sambil menunggu ngabubutips waktu berbuka puasa, kali ini diulas mengenai membersihkan kolong sepatbor. Sesuatu yang bisa jadi jarang dilakukan para pemilik motor, maklum posisinya agak susah dijangkau padahal jadi arang kotoran. Saat mencuci motor di steam wash, biasanya kolong memang disemprot pakai air bertekanan tinggi, namun ternyata tak menjamin bagian kolong bersih sempurna (Gbr.1). Buat para pencinta kebersihan tentu kurang maksimal. Malah kalau masih ada kotoran menempel dan dibiarkan, lama-kelamaan baut yang ada di kolong akan berkarat. “Kalau hanya sekadar dicuci memang terlihat sudah bersih, tetapi noda bekas oli atau lumpur membuat bagian kolong sepatbor masih terlihat kusam,” buka Andry Rinaldi owner Soul Wash. Mengatasinya, Andry mempunyai tips khusus untuk menghilangkan noda kusam yang masih bersarang di kolong sepatbor.

Baca Juga : Judi Via Pulsa

“Pertama Anda bisa datang ke Soul Wash untuk melakukan cuci steam dan mengambil paket premium wash dengan kelebihan mendapatkan poles seluruh komponen bodi termasuk kolong sepatbor, menggunakan teknik wax dengan cairan khusus yang diproduksi sendiri di Soul Wash (Gbr.2),” promosi pria yang bermarkas di Jl. Cinere Raya, Depok, Jawa Barat. Andry menambahkan, “Jika mau melakukan sendiri di rumah, bisa beli cairan poles wax seperti RES Black Magic atau Turttle Wax.” Cara pembersihannya pun cukup mudah, pertama tentu cuci bersih motor termasuk kolong sepatbornya (Gbr.3). Langkah selanjutnya keringkan menggunakan lap chamois (Gbr.4). “Setelah dikeringkan, baru olesi seluruh permukaan kolong sepatbor dengan cairan wax menggunakan busa spons secara merata (Gbr.5),” ungkap Andry. Dan ini hasilnya, kolong sepatbor jadi super bersih tidak lagi kusam (Gbr.6). Kinclong luar dalam deh jadinya!

Pasang Boks Konsol Tambahan di Yamaha Aerox 155 VVA

Pasang Boks Konsol Tambahan di Yamaha Aerox 155 VVA – Untuk penyimpanan, Yamaha Aerox 155 VVA memiliki bagasi berkapasitas 25 liter, dan juga sebuah konsol di bawah setang kiri yang juga ada fitur power outlet untuk mengisi ulang baterai gadget. namun sayangnya konsolnya cukup kecil dan cuma satu, sehingga sulit jika menaruh botol minum atau barang kecil ainnya seperti halnya di Mio series. Melihat fakta tersebut, muncul ide kreatif dari Yohanes Sirait sebagai owner MM Custom dengan membuat storage atau konsol tambahan untuk Aerox. “Dengan konsol ini menaruh barang-barang ringan jadi lebih praktis,” buka pria yang akrab disapa Ucok. Material yang digunakan dari fiberglass, yang dibentuk menyesuaikan bodi tengah Aerox (Gbr.1), ada dua buah di kanan dan kiri. “Sengaja pakai bahan fiberglass, karena bisa lebih tebal jadi lebih kuat dari plastik,” beber Ucok yang bermarkas di Pondok Kopi, Jakarta Timur.

Agar tak jadi kolam saat hujan, Ucok sudah membuatkan lubang pembuangan air (Gbr.2). Karena didesain khusus untuk Aerox, pemasangannya tentu cukup mudah. Pertama, lepas terlebih dahulu baut kanan dan kiri area bodi tengah menggunakan obeng plus (Gbr.3), yang akan dijadikan dudukan baut laci. Sebelum laci dipasang, lepas terlebih dahulu double tape yang sudah tersedia untuk merekatkan laci dengan bodi, baru kencangkan baut laci menggunakan obeng plus (Gbr.4). Nah ini dia hasilnya,kini bisa menaruh barang ringan termasuk botol air minum 600 ml, keren dan fungsional kan (Gbr.5)? Jika berminat, laci ini dibanderol dengan harga Rp 220 ribu saja

Tanggapan Rossi & LoRenzo

Tanggapan Rossi & LoRenzo – Semoga saja paket Honda ini sesuai dengan harapan. Sebab jika Marquez bisa kembali membalap sesuai keinginannya, maka bisa dipastikan bakal terjadi duel hidup – mati antara Marquez melawan Lorenzo dan Rossi. Sebelumnya, Marquez sudah sering katakan, bukan gayanya membalap secara safe di posisi tengah untuk sekedar memungut poin demi poin. Dia lebih suka menempuh risiko untuk fight di barisan depan. Wajar jika beberapa pembalap menganggap riding style Marquez ini terlalu agresif. Lantas apa komentar Rossi? Dengan separuh bercanda Rossi menjawab, “Marc itu pembalap yang ramah. Wajar kalau dia ingin selalu dekat dengan kamu, malah kadang dia ingin bersentuhan dengan kamu lho!” Tak kalah lucunya mendengar jawaban Lorenzo. “Saya tak perlu jawab pertanyaan itu. Anda bisa lihat sendiri muka saya,” kata Lorenzo yang sangat menentang aggressive riding dalam balap itu. Baik Rossi maupun Lorenzo sepakat jika peluang Marquez belum usai. Mereka memprediksi jika Honda dan Marquez sudah mampu mengatasi masalahnya, maka mereka bakal kembali menjadi ancaman. Dan itu diramalkan terjadi di paruh musim kedua nanti. Demi mengantisipasi hal ini, pihak Yamaha memutuskan melanjutkan tes Catalunya yang terkendala cuaca ke private test yang dilakukan di Aragon selama 2 hari. Pada kesempatan ini Lorenzo dan Rossi mengevaluasi sasis baru. “Kami merencanakan sasis yang benar­benar baru untuk meningkatkan corner entry,” kata Massimo Meregalli selaku team director. “Selain itu kami juga menjajal beberapa detail guna menghadapi Assen dan juga paruh musim nanti.”

Acara Balap Motor Honda di Kota Bunga

Acara Balap Motor Honda di Kota BungaPurwodadi, kota di dalam Kabu paten Grobogan ini mencatat sejarah menggelar ajang roadrace bertaraf nasional pertama kalinya, Honda Racing Championship. Lewat tangan Honda, jalanan seputar alun-alun disulap menjadi sirkuit taraf kejurnas (13-14/6). Meski pun sebuah kota kecil, Purwodadi ternyata menjadi wilayah yang spesial bagi market Honda. Penjualan motor Honda tipe Sport nomor 3 di Jawa Tengah. Berada di bawah Semarang dan Brebes. Tipe Sport terlaris CB150R, disusul Verza, lantas CBR150, dan New MegaPro. Hebatnya, “Secara market share, Honda di Purwodadi mencapai 80%. Di atas rata-rata marketshare Honda di Jateng yang 74%,” terang Sukamto Margono, Marketing Region Head HSO Semarang. Gelaran HRC ini secara tak langsung menjadi ungkapan terima kasih Honda. Hebatnya, meski dilangsungkan di sebuah kota kecil berjarak sekitar 60 km dari Semarang, standar eventnya tetaplah standar HRC. Artinya semua serba berkelas, dengan kemasan pasar senggol termegah. Dan paling asyik, serba gratis.

Tak hanya terima kasih, “Kita ingin lewat HRC ini, pembalap daerah bisa meningkatkan prestasi hingga ke tingkat internasional. Dan itu yang Honda lakukan dengan mengakrabkan pembalap lewat kelas-kelas berbasis motor sport,” jelas Anggono Iriawan, Manager Safety Riding and Motorsport PT AHM (produsen motor Honda). Kelas-kelas berbasis motor sport di HRC bahkan diwadahi dalam 3 kelas. Pertama, CBR 150 Standar Pemula Khusus (HRC-5). Ini kelas khusus karena motor CBR150 bagi peserta disediakan oleh AHM. Kedua, Sport 150 cc Standar Pemula (HRC-3) dan ketiga, Sport 150 cc Tune Up Seeded (HRC-1). Nah, di Purwodadi kemarin, pertarungan HRC-1 berlangsung seru dan ketat. Raihan poin bisa menjadi gambarannya. Itu dimungkinkan karena pengembangan motor HRC-1 yang begitu cepat.

Padahal ini baru kali kedua dipertandingkannya Sport 150cc Tune Up Seeded, tapi catatan waktunya sudah menunjukkan perkembangan signifikan. “Di lintasan pasar senggol, motor Sport normalnya bakal kalah waktunya dibanding motor bebek (Bebek 125cc Tune Up Seeded, HRC-2). Dan itu yang terlihat di seri I. Tapi di seri II ini, hasil QTT HRC-1 sudah 51,446 detik. Lebih singkat dari hasil QTT HRC-2 yang 51,516 detik,” sebut Anggono. Dengan semakin serunya balapan kelas motor sport di HRC, juga prestasi pembalap Honda di event internasional, tentu ini bisa menjadi faktor penarik bagi pembalap-pembalap muda asal daerah.

Ya, hingga pertengahan tahun ini rider-rider Honda sukses meraih prestasi internasional. Andi ‘Gilang’ Farid Izdihar, asal Bulukumba, Sulawesi Selatan sukses juara di ATC (Asian Talent Cup) seri Qatar. Sebelumnya Gerry Salim juara ketiga di ATC seri Thailand. Dan yang paling hangat, M. Fadli dan Dimas Ekky sukses finish 1-2 di ARRC seri Sentul. Hal yang membuat pembalap daerah macam Irfan Ardiansyah asal Semarang makin semangat untuk balapan dengan pacuan motor sport. “Tahun depan saya menargetkan setidaknya bisa balapan di ADC (Asian Dream Cup) atau ATC. Untuk persiapan itu, Ayah baru saja membelikan pacuan GP Mono buat latihan,” girang rider 15 tahun yang kemarin juara 2 di HRC-5 dan juara 1 di HRC-4. Ya, lewat HRC–lah, mimpi pembalap pemula daerah macam Irfan berprestasi di level internasional bisa terwujud.

Razia Yang Menyeret Ranu Bag4

Pemimpin Redaksi Panjimas.com Widiyarto membantah tuduhan Rikwanto. ”Ia sudah mengikuti isu Sosial Kitchen sejak setahun lalu,” kata Widiyarto dalam keterangan persnya. Semua berita di media online ini berisi kegiatan berbagai organisasi Islam. Kalaupun ada laporan tentang peristiwa umum, perspektif penulisnya selalu dari kacamata Islam. Ranu sendiri bergabung dengan Panjimas.com sejak Agustus 2014.

Di bawah logo situs itu, terpampang slogan mereka: ”Suara Kebenaran Lawan Kebatilan”. Sehari setelah razia, polisi bergerak cepat. Kepolisian Daerah Jawa Tengah mencokok lima pengurus inti Laskar Umat Islam Surakarta: Edi Lukito (ketua), Joko Sutarto, Endro Sudarsono (juru bicara), Suparno, dan Suparwoto. Mereka menjadi tersangka pelaku dan penggerak aksi perusakan kafe Social Kitchen.

Dua hari berselang, Rabu dua pekan lalu, polisi kembali menangkap pelaku razia, yaitu Margiyanto dan Yudi Wibowo. Keduanya diduga berperan sebagai operator lapangan razia. Keesokan harinya, giliran Ranu ditangkap polisi. Pekan lalu, tiga orang lagi ditangkap. Mereka adalah Eko Nugroho, Kombang Saputra, dan Mujiono Laksito. Eko adalah aktor penting karena dituding menjadi otak di balik pengerahan massa pada Ahad dinihari itu. ”Dia diduga memiliki ratusan anak buah yang digerakkan untuk razia,” ujar Kepala Subdirektorat Kejahatan dan Kekerasan Polda Jawa Tengah Ajun Komisaris Besar Nanang Haryono.

Operasi penangkapan belum berakhir. Nanang memastikan polisi sudah mengidentifkasi lebih dari 20 orang sebagai pelaku razia. Dia meminta mereka yang kabur segera menyerahkan diri. Tindakan keras Polda Jawa Tengah disokong pucuk pimpinan Polri. Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian memerintahkan barisannya menghadang semua jenis razia oleh organisasi kemasyarakatan apa pun. ”Datangi mereka baik-baik, suruh bubar,” kata Tito. ”Kalau tidak mau bubar, tangkap.”

Thukul Dan Bangkitnya Film-Film Non-Main Stream Bagian 3

Setiap pemutaran film akan diiringi orkestra musik yang berbeda di tiap negara. Tempo, yang peduli pada perkembangan film Indonesia, memiliki tradisi tahunan memilih film terbaik. Ini menjadi alternatif bagi ajang pemilihan film yang ada selama ini di Tanah Air. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami memilih film, sutradara, penulis skenario, aktor dan aktris, serta aktor dan aktris pendukung terbaik.

Dari sekitar 120 film yang dirilis pada 2016, kami menyaringnya, menontonnya satu per satu, kemudian membuat daftar kandidat. Film yang kami pilih tak harus sudah diputar di bioskop komersial. Kami memilih semua film yang dirilis sepanjang 2016, asalkan film itu telah diputar di depan publik, seperti di festival. Contohnya film Istirahatlah Kata-kata, yang diputar di Busan International Film Festival pada Oktober lalu.

Kami kemudian menyeleksi, mendiskusikan, dan memperdebatkannya sebelum memilih pemenangnya. Tim juri terdiri atas awak redaksi Tempo yang biasa meliput, menulis, dan menyunting tulisan film, plus pengamat dari luar. Adapun kali ini kami mengundang sineas Joko Anwar dan Adrian Jonathan Pasaribu, pengamat film dan pengelola Cinema Poetica— media yang banyak mengulas film Indonesia.

Thukul Dan Bangkitnya Film-Film Non-Main Stream Bagian 2

Fenomena itu menggembirakan sekaligus mengindikasikan industri film nasional kian bergairah. Selain film dengan jumlah penonton yang membeludak, film-film yang kental menggunakan dialog bahasa daerah, terutama Jawa, muncul pada 2016. Di antaranya film Sunya, Nyai, dan Ziarah (bahasa Jawa).

Lalu Salawaku (Maluku) dan Athirah (Bugis). Jumlahnya memang tidak mencapai puluhan, tapi kehadiran film dengan bahasa daerah itu tentu ikut memperkaya khazanah film nasional. Tak hanya itu. Pada 2016 juga bermunculan film indie yang lahir dari komunitas yang diproduksi dengan anggaran kecil. Sebut saja film Ziarah karya sutradara B.W. Purba Negara dan Istirahatlah Katakataarahan Yosep Anggi Noen. Kedua film itu mendapat sambutan yang menggembirakan ketika diputar di festival, baik di dalam maupun di luar negeri. Keduanya menggebrak justru sebelum ditayangkan di bioskop komersial di Tanah Air.

Lalu ada film bisu Setan Jawa karya sutradara Garin Nugroho. Kehadiran film bisu hitam-putih itu mendobrak dunia perfilman kita. Ia menjadi tontonan seni yang sangat menarik, melampaui film itu sendiri. Film yang mengangkat mitologi Jawa tentang pesugihan itu terinspirasi film horor hitam-putih dan bisu lawas Jerman, Nosferatu, karya F.W. Murnau.

Dalam pemutaran perdana di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, 3 dan 4 September 2016, orkestra gamelan Rahayu Supanggah mengiringi secara langsung film ini. Setelah di Jakarta, Setan Jawa diputar di enam negara Asia, Eropa, dan Australia. Dimulai di Asia-Pacifc Triennial of Performing Arts di Melbourne, Australia, pada Februari 2017.

Thukul Dan Bangkitnya Film-Film Non-Main Stream

Selain musim subur bagi sejumlah film nasional yang menggaet penonton di atas satu juta , 2016 diwarnai film-film indie yang lahir dari komunitas . Tempo menyajikan film-film pilihan yang dirilis sepanjang 2016. Tradisi tahunan pemilihan film ini sebagai alternatif bagi festival film yang ada selama ini. Satu hal yang hendak kami capai dari langk ah ini: merayakan kegairahan film nasional yang bermutu.

ADA sejumlah hal menarik yang mewarnai dunia perfilman nasional pada 2016. Untuk pertama kalinya dalam sejarah perfilman Indonesia, ada tujuh film yang berhasil menggaet lebih dari satu juta penonton dalam semester pertama. Film itu adalah Ada Apa dengan Cinta? 2 (3,6 juta penonton), My Stupid Boss (3,1 juta), Rudy Habibie (2 juta), dan Koala Kumal (1,8 juta). Lalu Comic 8: Casino Kings Part 2, I Love You from 38.000 Feet, dan London Love Story, yang masing-masing menyedot penonton 1,8 juta, 1,5 juta, dan 1,2 juta orang. Pada 2016, jagat perfilman Indonesia juga dibikin terperangah oleh jumlah penonton Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1.

Film komedi produksi Falcon Pictures yang dirilis pada September lalu itu berhasil mengumpulkan penonton dengan jumlah cukup fantastis: sekitar 6,8 juta! Boleh dibilang 2016 merupakan masa subur bagi film nasional. Menurut data, pada 2015 jumlah penonton film nasional di jaringan Cinema 21 saja sekitar 14,25 juta. Sedangkan pada 2016 jumlahnya melonjak hingga sekitar 20 juta penonton.