Belum Genap Setahun, Jalani Dua Operasi

Setelah si sulung berusia 4 tahun, saya dan suami baru mulai melakukan program hamil, sekaligus program supaya bisa memiliki anak laki-laki, karena penting sekali bagi kami sebagai pemeluk agama Hindu Bali. Ternyata, untuk mendapatkan kehamilan kedua tak semudah yang dibayangkan. Berbulan-bulan usaha dan konsultasi ke dokter, tetap tak membuahkan hasil, sampai akhirnya saya harus ganti dokter.

Baca juga : Kursus Bahasa Jepang di Jakarta Selatan

Tapi, di situ pula kami down, karena menurut dokter, saya susah untuk hamil kembali. Entah apa yang bisa membuat dokter membuat kesimpulan itu. Sejak saat itu, saya dan suami tak mau mengikuti aturan dokter lagi, vitamin yang sudah saya beli pun tidak saya konsumsi. Kami hanya mengikuti saran dokter dalam hal menjaga pola makan. Suami memperbanyak konsumsi daging merah, sementara saya sayur-sayuran dan buah-buahan. Pun di situ kami pasrahkan saja semuanya pada yang Mahakuasa.

Mungkin karena kami pasrah inilah, Tuhan menjawab doa kami dengan memberikan kehamilan yang kedua. Karena ini anak yang dinantikan, setiap bulan saya tak pernah melewatkan jadwal ke dokter, bahkan cenderung lebih awal saking tidak sabarnya. Selain itu, kehamilan kedua ini, semuanya sangat berbeda. Biasanya ibu hamil susah makan karena mual, saya justru kebalikannya, mual jika sampai merasa lapar. Uniknya, saya tetap bisa berkerja seperti biasa sebagai MC hingga ke luar kota, naik pesawat, bahkan saat perut sudah membuncit karena memasuki 32 minggu masih ada yang minta saya menjadi MC!

Intinya, selama menjalani kehamilan kedua ini, saya begitu semangat dan bertambah semangat saat dokter memberitahukan, anak saya ini laki-laki, sehat, lengkap dan energik. KONDISI SI KECIL DITUTUP-TUTUPI Tiba waktunya bersalin, seperti anak pertama, oleh dokter disarankan untuk sesar. Seperti anak pertama pula, saya request selama operasi agar dibius tidur alias tidak sadar sama sekali. Begitu sadar pascaoperasi, saya mendengar seorang perawat yang membangunkan mengucapkan selamat, karena putra saya sudah lahir. Kemudian, perawat itu mendekatkan bayi ke bibir saya agar bisa dicium. Saat itu saya tidak bisa membuka mata secara normal, karena belum sadar 100%, jadi semuanya terlihat samar. Setelah itu saya kembali tertidur.

Sumber : https://eduvita.org/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *